SANTRI

Media santri dan pesantren

Beragama dan Berbudaya

Sabtu, 17 Juni 2017

Santri dan Tantangan Zaman

Posted by   on Pinterest


Secara pengertian, santri adalah seseorang yang menuntut ilmu agama kepada serang guru, baik ia tinggal di asrama maupun tidak. Namun pada umumnya, santri tinggal di sebuah asrama atau yang di sebut dengan pondok pesntren. Pesantren sndiri adalah bagian dari pendidikan nonformal yang khusus mengkaji ilmu keagamaan dan lebih mengedepankan akhlakul karimah atau bisa disebut sebagai penddidikan karakter kebangsaan. Sehingga kata akhlak (perilaku baik), telah melekat dalam diri seorang santri.“Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah SANTRI” 

Sebuah kalimat sederhana yang di lantunkan oleh kiai karismatik Gusmus, namun memiliki makna yang sangat mendalam. Kalimat tersebut memberikan gambaran, bahwa santri memiliki tanggung jawab sangat besar atas perannya dalam kehidupan sosial. Dalam kesehariannya setiap santri dituntut untuk memberikan contoh perilaku yang baik terhadap orang-orang disekitarnya. Paradigma masyarakat, secara umum menganggap bahwa seorang santri, tentu memahami dengan baik persoalan-persoalan seputar agama, karena roda keseharian santri ialah mengkaji berbagai rumus-rumus agama. Sehingga masyarakat menjudge bahwa seorang santri adalah cermin akhlak bagi masyarakat sekitarnya. Tanggung jawab inilah yang harus dipikul oleh seorang santri, dalam menyikapi berbagai problematika yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. 
 
Tantangan Pesantren

Meskipun Pondok Pesantren bukanlah pendidikan formal, namun peran pondok pesantren sangat berpengaruh dalam kancah keislaman di masyarakat dalam bidang keagamaan maupun sosial. Ironisnya, saat ini minat masyarakat terhadap pendidikan Pesantren semakin menurun, masyarakat lebih memilih memasukan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah modern dan kelihatan lebih banyak memberikan peluang pekerjaan di masa depan nanti.

Inilah tantangan Pesantren saat ini, keinginan manusia saat ini adalah terutama di Indonesia yang masih merupakan negara berkembang, yang diinginkan masyarakatnya adalah kesejahteraan masa depan, sedangkan pondok pesantren yang bersifat tradisionalis umumnya tidak memberikan life skill kepada santri untuk kehidupan mendatang. Mungkin inilah salah satu penyebab minimnya minat masyarakat terhadap Pesantren.

Pondok pesantren saat ini dituntut untuk mampu mencipatakan inovasi baru, agar mampu bersaing dalam arus globalisasi modern. Namun bukan berarti,  meninggalkan ke-khasan dari pondok pesantren, tetapi memunculkan kreasi-kreasi baru yang bisa menarik anggapan masyarakat, bahwasanya pesntren dalam tradisi pembelajarannya tidaklah bersifat kaku, melainkan dinamis dan mampu mengimbangi arus zaman modern.

Kemudian, salah satu penyebab menurunnya minat masyarakat yaitu terhadap kader Pesantren saat ini. Bila pada awalnya alumnus dari pondok pesantren bisa menjadi tokoh atau penggerak pembaharuan, namun saat ini mutu dan kualitas santri sangat menurun drastis. Hal tersebut juga di pengaruhi oleh beberapa faktor.

Tantangan Santri 

Selain zaman telah menguji sistem pendidikan pondok Pesantren, namun santripun saat ini sedang diuji dengan berbagai hal yang menyebabkan menurunnya minat santri dalam belajar. pengaruh tersebut diantaranya yaitu arus globalisasi, oksidentalisasi, dan paham hedonisme. Pengaruh kuat globalisasi semakin mendorong para santri akan ketergantungan terhadap media masa. Pengkajian terhadap kitab kuning menurun drastis, kini smuanya teralihkan terhadap TV, Internet, Gadget, dan situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, IG, Path, BBM dan lain sebagainya.

Oksidentalisasi atau kebarat-baratan, pengaruh ini telah merambat ke sluruh lapisan masyarakat, termasuk dunia peasntren. Gaya barat yang di nilai lebih maju dari pada gaya Islam, menyebabkan banyak santri yang terjerambab masuk kedalamnya. Banyak santri yang lebih mengidolakan tokoh-tokoh barat yang populeritasnya tinggi dan melupakan panutan mutlak Rasulullah saw, yang seharus menjadi ciri khas karakter seoarang santri. . 

Hedonisme yaitu pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan, serta merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Sehingga banyak yang mulai terlena dengan sifat duniawi, akhirnya mulai muncul gaya hidup yang berlebih-lebihan.

Paparan diatas jika kita lihat secara real, merupakan faktor yang menjadikan mutu dan kualitas santri semakin menurun di era modern ini. Oleh sebab itu, inilah tantangan yang harus di lumpuhkan oleh seluruh santri, agar penjiwaan terhadap makna dari santri itu sendiri dapat terpatri dengan baik dalam pribadi seorang santri.

Tanggung Jawab Santri      

Tanggung jawab seorang santri selain mengamalkan ilmunya untuk dirinya sendiri tetapi juga meneruskan misi Rosul SAW yakni, menyebarkan syiar islam (balighuu anni walau ayah), menyempurnakan akhlaq (Li utammima makarim al-akhlaq), dan bisa dijadikan panutan dalam  masyarakat (Uswah Khasanah)  setelah kepulangannya dari Pesantren.
Jadi, setelah kepulangannya dari Pesantren santri harus mampu menampilkan dirinya sebagai seorang yang yang mampu menjelmakan dirinya sebagai agent of change, yakni agen dari sebuah perubahan, yakni mampu memberikan perubahan kultur dan moral masyarakat menuju tahap yang lebih baik. Sebab sebagai seorang santri sekaligus sebagai pemuda bangsa merupakan harapan untuk membawa bangsa ini lebih baik kedepannya.
شبان اليوم رجال الغد
  "Pemuda hari ini adalah pemimpim di masa yang akan datang”
Oleh sebab itu, sebagai serang santri dengan tanggung jawabnya, harus bisa menjadikan dirinya sebagai panutan dalam berbagai hal, seperti Rasul dalam uswah hasanahnya. Karena secara otomatis seorang santri adalah pewaris para nabi dalam keilmuannya. Tetaplah jadi santri kapan dan dimanapun, karena santri adalah tonggak kemajuan bangsa.
 (Sumbergambar : gayahidupmu.com)
    Oleh : Afandi A. Mahasiswa PBSB Ilmu Falak UIN Walisongo angkatan 2015

Dari Santri, Untuk Negeri - CSSMoRA
Ikuti Kami