SANTRI

Media santri dan pesantren

Beragama dan Berbudaya

Rabu, 10 Mei 2017

Museum Brawijaya: Saksi Bisu Sejarah

Posted by   on Pinterest

Fakta sejarah para pejuang Indonesia di museum Brawijaya, kota Malang, dalam observasiku ke museum tersebut pada kurun 2015, menyisakan banyak kenangan sekaligus menambah wawasan dan militansi dalam menghadapi era globalisasi yang membodohi. Tidak hanya berbentuk tulisan semata, aneka ragam perlengkapan perang ada didalam museum itu. Dipamerkannya foto-foto tahun 1949 dan didukung dengan kata-kata bijak pahlawan nasional yang tertempel pada beberapa tembok museum itu, seakan menghubungkan segala kehidupanku dengan mereka –para pahlawan- baik material maupun non material. 

Lokasi yang strategis pada masa kini, karena di tengah kota, memudahkan masyarakat untuk berkunjung dan mengenang jasa para pahlawan. Ditambah lokasi yang tiap hari minggu pagi memberikan peluang pada masyarakat untuk bisa meregangkan dan meluruskan otot-ototnya yang sejak seminggu bekerja, belajar dan segala aktifitas yang melelahkan dan membosankan. Lokasi tersebut, beralamat di Jalan Ijen. Kegiatan itu adalah senam pagi. Kegiatan yang diadakan tepat di depan museum Brawijaya yang juga disekeliling tugu. Tugu yang dipersembahkan oleh rakyat Indonesia, dalam mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan perang dalam memperjuangkan bangsa ini. tugu yang selalu dijaga dan dirawat oleh beberapa kalangan muda dan tua, atau mungkin adalah orang yang memang ditugaskan menjadi pahlawan kebersihan di tempat itu. 

Aku mulai mengobservasi dari sekeliling museum Brawijaya. Nama yang diambil dari raja Majapahit yang berhasil mempersatukan wilayah nusantara dan bergelar Prabu Brawijaya. Sekarang, selain nama tersebut dijadikan nama museum, juga dijadikan nama markas militer KODAM VIII. Selain ku dapatkan sebuah tugu yang menjulang tinggi ke atas, seperti halnya jiwa juang para pahlawan yang tinggi. 

Kudapatkan pula sebuah tank yang cukup tua, hingga roda-rodanya terlihat kempes dan kering lusuh, tak terbantahkan usia tuanya. Meskipun tuanya tank tersebut, masih tetap terlihat bagus. Mampu membuat pejalan kaki hinggap sebentar untuk melihat keeksotikannya. 

Memasuki museum Brawijaya, dihadapkan dengan keindahan taman-taman. Disertai pula dengan kolam ikan yang dibelah oleh jembatan. Jembatan yang menghubungkan pada jalan masuk museum tersebut. Dengan mengocek saku dan mengeluarkan tiga ribu rupiah, seseorang bisa masuk ke dalam museum. 

Terdapat dua ruangan yang menyimpan beragam perlengkapan, perkakas perang modern maupun tradisional, foto-foto pahlawan, peta perang Pangeran Diponegoro, dan artileri tua, juga beberapa penghargaan TNI berupa thropi dan piagam. Memasuki ruangan pertama, terpampang foto-foto para pahlawan yang gugur dalam memeprjuangkan bangsa ini. di antara mereka ada, Shodanco Supriyadi, tokoh PETA. Selain itu masih banyak alat tembak yang bermacam-macam, ada yang berinisial 65, 62, 72, 555, dan masih banyak lagi. Sotgun pun ada disana dan bermacam-macam jenisnya. 

Terdapat pula madding yang berisikan foto-foto lama yang berketerangan dibawah maupun diatasnya. Foto yang notabenenya menceritakan perang pada tahun 1945 hingga 1949 itu mengingatkan kepadaku kerasnya perjuangan, gigihnya semangat juang dan bela negara yang tinggi. Para pahlawan yang terlihat pada foto tersebut meninggalkan raut muka yang seakan mengajak para pemuda ikut andil dalam bela negara. Para arek-arek Surabaya yang sedang memegang senjata, bertiarap, memainkan senapan dan bambu runcing yang menjadi ciri khas pejuang Indonesia dalam tragedi 10 november 1945, membuat hatiku ciut, tangan gemetar, mata terbelalak sesaat. Apa yang sudah aku berikan pada negaraku, ungkapku. 

Aku malu dengan diriku. Aku mulai berfikir dan mencermati mading tersebut. sampai ku cermati pula tembok-tembok di sekeliling ruangan itu. kudapatkan kembali hal yang mengiris hati. Kali ini hati bukan makin menciut, akan tetapi hati makin kuat setelah kubaca kata-kata Jendral Soedirman yang ditempel di tembok ruangan itu. Beliau berkata, 

-“Korban sudah cukup banyak, prajurit sudah banyak yang gugur, pantang mundur, revolusi kita belum selesai”-

-“Kemewahan adalah permulaan keruntuhan, kesenangan melupakan tujuan, irihati merusak persatuan, keangkaramurkaan menghilangkan tujuan”-

-“Jangan bimbang menghadapi macam-macam penderitaan, karena makin dekat cita-cita kita tercapai, makin berat penderitaan yang harus kita alami”- 

 Dengan pernyataan Jendral Soedirman, hatiku mulai melebar, semangatku mulai naik, gemetar malu berubah menjadi semangat yang menggebu-gebu. Aku mulai menancapkan niat untuk merevolusi diri sebelum merevolusi bangsa ini dari kemunduran. Dalam hal ini, peran pemuda bangsa harus dikedepankan. Para pemuda harus dibina, diarahkan, dan dididik agar bisa meneruskan estafet perjuangan yang telah disuarakan oleh para pendahulu. 

Memasuki ruangan kedua, terdapat banyak pula artileri, perkakas perang, dan peta perang . Yang membedakan hanya perkakas perang yang masih tradisional dan terdapat banyak penghargaan TNI. Alat perkakas perang yang terdapat pada ruangan ini, seperti perkakas yang dipakai di daerah Papua, yaitu panah. Dan apabila ruangan pertama mading berisi gambar-gambar yang menceritakan masa perjuangan melawan penjajah belanda, maka di ruang kedua ini, menceritakan tentang pemberontakan PKI. Pemberontakan di Madiun dan sejumlah tempat yang pada akhirnya ditumpas habis-habisan oleh pihak TNI. 

Keluar dari ruangan kedua, ternyata masih ada serambi didalam kawasan museum. Terdapat semacam gerbong kereta yang didalamnya hanya ada ruang lepas. Ventilasinya pun sangat sedikit. Memungkinkan bagi orang yang tinggal didalamnya bisa kekurangan nafas. Di gerbong tersebut tertuliskan bahwa, gerbong ini pernah mengangkut 100 tawanan dari rakyat Indonesia. Gerbong itu mengangkut dan melewati beberapa kota. Sesampainya di kota yang dituju, dari 100 rakyat Indonesia yang di angkut, 14 meninggal dunia, 43 sakit parah, dan 43 selamat sehat. Ini adalah jumlah yang lumayan banyak. Bukti perjuangan dari rakyat Indonesia masih bisa kita lihat sekarang. 

Cerita sejarah dari pendirian museum Brawijaya di Malang ini cukup menarik. Kenapa harus kota Malang yang menjadi tempat penyimpanan perkakas-perkakas perang dalam bukti sejarah tersebut? karena kota Malang pada saat itu adalah kawasan yang dianggap aman dari kolonial belanda dan antek-anteknya. Kota Malang terletak ditengah daripada pulau Jawa bagian timur jika dibandingkan dengan Surabaya dan Malang selatan. maka tempat tersebut dianggap aman bagi para rakyat Indonesia yang berada di kawasan Malang kala itu. Tempat yang susah dijangkau oleh para penjajah. Rakyat Indonesia yang memegang pesan-pesan pendahulu lah yang menjadikan museum Brawijaya ini bisa kita jumpai hingga sekarang. 

Museum yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya dan masih terus dilestarikan. Bahkan tiap beberapa tahun sekali, museum itu selalu direnovasi, guna menjaga dan merawat agar kelak, anak cucu bangsa Indonesia bisa melihat dan mengambil pelajaran atas peristiwa para pejuang kemerdekaan yang merebut kekuasaan negri ini dari penjajah. Terkhusus apa yang sudah tertulis, tertempel dan terpajang di museum tersebut. 

Oleh: Budi Cahyono 
Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Anggota CSSMoRA.

Dari Santri, Untuk Negeri - CSSMoRA
Ikuti Kami