SANTRI

Media santri dan pesantren

Beragama dan Berbudaya

Senin, 22 Mei 2017

Menggagas Rekonstruksi Nilai-Nilai Pesantren

Posted by   on Pinterest

Pesantren diyakini merupakan hasil “rekayasa tradisi” lembaga pendidikan tradisional asli indonesia. Institusi ini telah ada sejak datangnya para pesinggah Gujarat, serta Arab, dalam perjalannanya menyebarkan agama Islam. Di Indonesia sendiri sistem pendidikan pesantren memiliki kesamaan dengan sistem pendidikan Hindu-Budha, yang dalam beberapa literatur serupa dengan mandala atau padepokan. Harus diakui bahwa pesantren memiliki corak keagamaan yang tradisional, unik dan indigenous. Selain itu, kecenderungan erat pesantren dengan kombinasi madrasah dan laku tarekat juga tidak bisa dipungkiri.

Pola umum pendidikan Islam tradisional berkaitan erat dengan tatanan, budaya atau adat yang hidup dalam sebuah komunitas masyarakat. Teridentifikasi beberapa pola pendidikan tradisional dengan beberapa komponen, seperti: hubungan kyai dan santri, pola hidup sederhana, kemandirian dan independensi kehidupan, serta tradisi tolong-menolong didasari rasa persaudaraan, kedisiplinan, ditambah pola pikir “gelem sengsoro” untuk mencapai tujuan dan tingkat religius yang tinggi.

Pesantren memiliki ciri khas yang berbeda dengan sistem pendidikan lainnya. Sistem pendidikan yang digunakan biasanya dikenal dengan istilah sorogan dan bandongan. Di samping adanya halaqoh dengan kiai, juga ada beberapa istilah pengajaran dan diskusi lainnya seperti hafalan (tahfidz), hiwar atau musyawarah, bahtsul masail (mudzakarah), fathul kutub, muqoronah serta muhadatsah. Elemen-elemen pesantren yang memberikan konstruk ciri khas ini adalah adanya kyai, santri, pondok, masjid dan kitab kuning. Elemen ini yang menjadikan pesantren memiliki karekteristik tersendiri.

Sistem pembelajaran di pesantren setiap kali mengalami perkembangan dan perubahan menyesuaikan dengan perkembangan model zaman. Metode baru yang lebih efektif dan efisien dikembangkan agar kelangsungan pembelajaran dapat berjalan jauh lebih baik. Patut ditengarai bahwa di era sekarang ini beberapa pesantren mulai mengurangi atau mengganti ciri khas sorogan atau bandongan, dengan munculnya pondok pesantren dengan sistem asrama (boarding). Pada sistem ini seorang santri berdiam di pondok dan setiap paginya mendapat ilmu pengetahuan umum dan sekolah.

Berbagai upaya proteksi yang dilakukan oleh institusi atau negara telah berdampak kepada pesantren yang kini memulai “proyek modernisasi”. Ini menjadi wacana tersendiri mengenai tantangan terhadap keterbukaan, kelenturan serta otonomi pendidikan yang sudah dikembangkan pesantren sejak lama. Selain itu, wacana pembaruan antara lain berkembangnya keragaman pesantren dengan budaya dan teknologi terbaru. Dalam kondisi seperti inilah pondok pesantren dihadapkan langsung dengan realitas, dimana adu wacana mengenai persaingan identitas dan pembelajaran pesantren mendapat tekanan. Karena itulah, pada dasarnya modernisasi ini menjadi salah satu upaya pesantren dalam menerima wacana pembaruan dengan terus berusaha mempertahankan ciri khas pesantren, khususnya kultur tradisionalnya.

Pesantren dan Gagasan Pembaruan

Sejarah mencatat bahwa adanya pendidikan tergantung juga dari tingkat perkembangan pemikiran atau ide-ide dari manusia. Pendidikan adalah proses pemanusiaan atau humanisasi. Tujuan dari pendidikan harus memaksimalkan kemajuan pola pikir setiap manusia. Karena itu proses humanisasi ini dimulai dengan perbaikan atau pembenahan moral kemanusiaan. Pemenuhan moral ini mulai dilakukan setelah kelahiran biologis anak dari orang tuanya yang mengharuskan orang tua untuk mendidik anak dengan moral-moral yang santun.

Humanisasi atau pendidikan moral ini mengungkapkan sifat-sifat atau watak yang baik dalam memperlakukan sesama, seperti simpatik, lemah-lembut, ramah, toleran dan tidak kasar. Dalam kerangka pemikiran ini moral memperoleh tempat yang sentral dalam pendidikan. Kepentingan akan orientasi mengenai pendidikan akan membuahkan pemikiran-pemikiran mengenai hakikat atau esensi pendidikan itu sendiri, baik tentang eksistensi kepribadian maupun kemanusiaan.

Persoalan baru yang sering dimunculkan di kalangan pesantren adalah seperti fenomena doktrin yang kerap menjadi tantangan eksistensi santri dalam merespon modernitas. Islam senatiasa merespon modernitas zaman dengan menjadikan moral sebagai kekuatan yang mampu membimbing umat manusia. Seorang muslim hendaknya memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dengan menciptakan masyarakat bermoral, berkeadilan dan menghargai pluralitas. Pesantren menjadi salah satu ujung tombak pembinaan umat Islam Indonesia. Pesantren perlu menjawab modernitas zaman dengan menata kembali pondasi identitas, juga sikap etik dan adaptif yang tidak lekang oleh waktu.

Menurut penulis, cara pesantren menerima modernitas ini bisa dipetakan dengan adanya tiga tipologi, pertama, metode konservatif, yakni memunculkan paradigma beragama yang ideal. Kedua, metode progresif, yakni dalam kerja intelektualnya berusaha menggunakan proses transformasi sosial. Ketiga, metode reformis moderat, yakni membaca peralihan dari kultur tradisional patriarkal kepada masyarakat yang rasional dan ilmiah.

Dengan cara pandang inilah, pesantren perlu melakukan akomodasi kultural dan bergerak ke arah penerimaan modernitas sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan realita. Pesantren perlu menimbang ulang sistem teologi dan identitasnya yang meniscayakan adanya keterbukaan sikap untuk menerima perubahan-perubahan dan perbedaan-perbedaan. Adanya hal ini, seperti mengubah cara pandang terhadap teks menjadi lebih rasional serta inklusif. Melalui kenyataan inilah, agama Islam melalui pesantren sendiri bisa digunakan sebagai sumber motivasi bagi umat, khususnya santri, mengubah keadaan masyarakat sekaligus menjadi modal spiritual untuk meningkatkan interaksi dan aplikasi Islam kepada kehidupan.
(Sumber gambar: republika.co.id)
 Oleh: Maulidatun Nur Azizah
Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, Anggota CSSMoRA asal Blitar

Dari Santri, Untuk Negeri - CSSMoRA
Ikuti Kami