SANTRI

Media santri dan pesantren

Beragama dan Berbudaya

Sabtu, 17 Juni 2017

CSSMoRA Deklarasikan Setia Pancasila Usai Muspimnas




CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) merupakan organisasi para santri penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementrian Agama Republik Indonesia. Sebagai organisasi para santri, CSSMoRA berkomitmen menjaga Pancasila dan NKRI. Oleh karena itu, selepas melaksanakan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) yang dilaksanakan pada 9-11 Juni 2017 di Yayasan Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo, Jawa Timur, CSSMoRA mendeklarasikan setia Pancasila.

Deklarasi Setia Pancasila tersebut dibacakan oleh Ketua Umum CSSMoRA Nasional, Annas Rolli Muchlisin, dan diikuti oleh para Ketua CSSMoRA Perguruan Tinggi, Badan Pengurus Harian dan Koordinator Departemen CSSMoRA Nasional, serta perwakilan BSO Santri. 

“Deklarasi ini penting dilakukan untuk meneguhkan kembali kesetiaan para santri terhadap Pancasila sebagaimana telah dicontohkan oleh para kiai kita, khususnya saat ini di tengah gelombang gerakan dan kelompok yang bernafsu mengganti Pancasila”, tegas Annas. 
Berikut ini adalah teks Deklarasi Setia Pancasila CSSMoRA. 

Deklarasi Setia Pancasila

Berangkat dari komitmen bersama akan pentingnya upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia di tengah kemajemukan dan mempertahankan ideologi bangsa dari segala macam bentuk ancaman dengan senantiasa berpijak pada tradisi Islam kepesantrenan dan sejarah konsensus para pendiri bangsa.
Maka pada hari ini, Ahad 11 Juni 2017 di Yayasan Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo, CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) dengan ini mendeklarasikan bahwa:
1. CSSMoRA menjunjung tinggi dan menyatakan kesetiaan terhadap Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia.
2. CSSMoRA menolak segala bentuk gerakan dan kelompok yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain.
3. CSSMoRA menolak segala bentuk penyebaran berita yang belum jelas kebenarannya (hoax) dan menghidupkan budaya klarifikasi.
4. CSSMoRA meneguhkan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Oleh : Annas Rolli Muchlisin Ketua CSSMoRA Nasional 2017-2018 Mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Angkatan 2014

Santri dan Tantangan Zaman

 

Secara pengertian, santri adalah seseorang yang menuntut ilmu agama kepada serang guru, baik ia tinggal di asrama maupun tidak. Namun pada umumnya, santri tinggal di sebuah asrama atau yang di sebut dengan pondok pesntren. Pesantren sndiri adalah bagian dari pendidikan nonformal yang khusus mengkaji ilmu keagamaan dan lebih mengedepankan akhlakul karimah atau bisa disebut sebagai penddidikan karakter kebangsaan. Sehingga kata akhlak (perilaku baik), telah melekat dalam diri seorang santri.“Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah SANTRI” 

Sebuah kalimat sederhana yang di lantunkan oleh kiai karismatik Gusmus, namun memiliki makna yang sangat mendalam. Kalimat tersebut memberikan gambaran, bahwa santri memiliki tanggung jawab sangat besar atas perannya dalam kehidupan sosial. Dalam kesehariannya setiap santri dituntut untuk memberikan contoh perilaku yang baik terhadap orang-orang disekitarnya. Paradigma masyarakat, secara umum menganggap bahwa seorang santri, tentu memahami dengan baik persoalan-persoalan seputar agama, karena roda keseharian santri ialah mengkaji berbagai rumus-rumus agama. Sehingga masyarakat menjudge bahwa seorang santri adalah cermin akhlak bagi masyarakat sekitarnya. Tanggung jawab inilah yang harus dipikul oleh seorang santri, dalam menyikapi berbagai problematika yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. 
 
Tantangan Pesantren

Meskipun Pondok Pesantren bukanlah pendidikan formal, namun peran pondok pesantren sangat berpengaruh dalam kancah keislaman di masyarakat dalam bidang keagamaan maupun sosial. Ironisnya, saat ini minat masyarakat terhadap pendidikan Pesantren semakin menurun, masyarakat lebih memilih memasukan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah modern dan kelihatan lebih banyak memberikan peluang pekerjaan di masa depan nanti.

Inilah tantangan Pesantren saat ini, keinginan manusia saat ini adalah terutama di Indonesia yang masih merupakan negara berkembang, yang diinginkan masyarakatnya adalah kesejahteraan masa depan, sedangkan pondok pesantren yang bersifat tradisionalis umumnya tidak memberikan life skill kepada santri untuk kehidupan mendatang. Mungkin inilah salah satu penyebab minimnya minat masyarakat terhadap Pesantren.

Pondok pesantren saat ini dituntut untuk mampu mencipatakan inovasi baru, agar mampu bersaing dalam arus globalisasi modern. Namun bukan berarti,  meninggalkan ke-khasan dari pondok pesantren, tetapi memunculkan kreasi-kreasi baru yang bisa menarik anggapan masyarakat, bahwasanya pesntren dalam tradisi pembelajarannya tidaklah bersifat kaku, melainkan dinamis dan mampu mengimbangi arus zaman modern.

Kemudian, salah satu penyebab menurunnya minat masyarakat yaitu terhadap kader Pesantren saat ini. Bila pada awalnya alumnus dari pondok pesantren bisa menjadi tokoh atau penggerak pembaharuan, namun saat ini mutu dan kualitas santri sangat menurun drastis. Hal tersebut juga di pengaruhi oleh beberapa faktor.

Tantangan Santri 

Selain zaman telah menguji sistem pendidikan pondok Pesantren, namun santripun saat ini sedang diuji dengan berbagai hal yang menyebabkan menurunnya minat santri dalam belajar. pengaruh tersebut diantaranya yaitu arus globalisasi, oksidentalisasi, dan paham hedonisme. Pengaruh kuat globalisasi semakin mendorong para santri akan ketergantungan terhadap media masa. Pengkajian terhadap kitab kuning menurun drastis, kini smuanya teralihkan terhadap TV, Internet, Gadget, dan situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, IG, Path, BBM dan lain sebagainya.

Oksidentalisasi atau kebarat-baratan, pengaruh ini telah merambat ke sluruh lapisan masyarakat, termasuk dunia peasntren. Gaya barat yang di nilai lebih maju dari pada gaya Islam, menyebabkan banyak santri yang terjerambab masuk kedalamnya. Banyak santri yang lebih mengidolakan tokoh-tokoh barat yang populeritasnya tinggi dan melupakan panutan mutlak Rasulullah saw, yang seharus menjadi ciri khas karakter seoarang santri. . 

Hedonisme yaitu pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan, serta merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Sehingga banyak yang mulai terlena dengan sifat duniawi, akhirnya mulai muncul gaya hidup yang berlebih-lebihan.

Paparan diatas jika kita lihat secara real, merupakan faktor yang menjadikan mutu dan kualitas santri semakin menurun di era modern ini. Oleh sebab itu, inilah tantangan yang harus di lumpuhkan oleh seluruh santri, agar penjiwaan terhadap makna dari santri itu sendiri dapat terpatri dengan baik dalam pribadi seorang santri.

Tanggung Jawab Santri      

Tanggung jawab seorang santri selain mengamalkan ilmunya untuk dirinya sendiri tetapi juga meneruskan misi Rosul SAW yakni, menyebarkan syiar islam (balighuu anni walau ayah), menyempurnakan akhlaq (Li utammima makarim al-akhlaq), dan bisa dijadikan panutan dalam  masyarakat (Uswah Khasanah)  setelah kepulangannya dari Pesantren.
Jadi, setelah kepulangannya dari Pesantren santri harus mampu menampilkan dirinya sebagai seorang yang yang mampu menjelmakan dirinya sebagai agent of change, yakni agen dari sebuah perubahan, yakni mampu memberikan perubahan kultur dan moral masyarakat menuju tahap yang lebih baik. Sebab sebagai seorang santri sekaligus sebagai pemuda bangsa merupakan harapan untuk membawa bangsa ini lebih baik kedepannya.
شبان اليوم رجال الغد
  "Pemuda hari ini adalah pemimpim di masa yang akan datang”
Oleh sebab itu, sebagai serang santri dengan tanggung jawabnya, harus bisa menjadikan dirinya sebagai panutan dalam berbagai hal, seperti Rasul dalam uswah hasanahnya. Karena secara otomatis seorang santri adalah pewaris para nabi dalam keilmuannya. Tetaplah jadi santri kapan dan dimanapun, karena santri adalah tonggak kemajuan bangsa.
 (Sumbergambar : gayahidupmu.com)
    Oleh : Afandi A. Mahasiswa PBSB Ilmu Falak UIN Walisongo angkatan 2015

Senin, 22 Mei 2017

Menggagas Rekonstruksi Nilai-Nilai Pesantren

 
Pesantren diyakini merupakan hasil “rekayasa tradisi” lembaga pendidikan tradisional asli indonesia. Institusi ini telah ada sejak datangnya para pesinggah Gujarat, serta Arab, dalam perjalannanya menyebarkan agama Islam. Di Indonesia sendiri sistem pendidikan pesantren memiliki kesamaan dengan sistem pendidikan Hindu-Budha, yang dalam beberapa literatur serupa dengan mandala atau padepokan. Harus diakui bahwa pesantren memiliki corak keagamaan yang tradisional, unik dan indigenous. Selain itu, kecenderungan erat pesantren dengan kombinasi madrasah dan laku tarekat juga tidak bisa dipungkiri.

Pola umum pendidikan Islam tradisional berkaitan erat dengan tatanan, budaya atau adat yang hidup dalam sebuah komunitas masyarakat. Teridentifikasi beberapa pola pendidikan tradisional dengan beberapa komponen, seperti: hubungan kyai dan santri, pola hidup sederhana, kemandirian dan independensi kehidupan, serta tradisi tolong-menolong didasari rasa persaudaraan, kedisiplinan, ditambah pola pikir “gelem sengsoro” untuk mencapai tujuan dan tingkat religius yang tinggi.

Pesantren memiliki ciri khas yang berbeda dengan sistem pendidikan lainnya. Sistem pendidikan yang digunakan biasanya dikenal dengan istilah sorogan dan bandongan. Di samping adanya halaqoh dengan kiai, juga ada beberapa istilah pengajaran dan diskusi lainnya seperti hafalan (tahfidz), hiwar atau musyawarah, bahtsul masail (mudzakarah), fathul kutub, muqoronah serta muhadatsah. Elemen-elemen pesantren yang memberikan konstruk ciri khas ini adalah adanya kyai, santri, pondok, masjid dan kitab kuning. Elemen ini yang menjadikan pesantren memiliki karekteristik tersendiri.

Sistem pembelajaran di pesantren setiap kali mengalami perkembangan dan perubahan menyesuaikan dengan perkembangan model zaman. Metode baru yang lebih efektif dan efisien dikembangkan agar kelangsungan pembelajaran dapat berjalan jauh lebih baik. Patut ditengarai bahwa di era sekarang ini beberapa pesantren mulai mengurangi atau mengganti ciri khas sorogan atau bandongan, dengan munculnya pondok pesantren dengan sistem asrama (boarding). Pada sistem ini seorang santri berdiam di pondok dan setiap paginya mendapat ilmu pengetahuan umum dan sekolah.

Berbagai upaya proteksi yang dilakukan oleh institusi atau negara telah berdampak kepada pesantren yang kini memulai “proyek modernisasi”. Ini menjadi wacana tersendiri mengenai tantangan terhadap keterbukaan, kelenturan serta otonomi pendidikan yang sudah dikembangkan pesantren sejak lama. Selain itu, wacana pembaruan antara lain berkembangnya keragaman pesantren dengan budaya dan teknologi terbaru. Dalam kondisi seperti inilah pondok pesantren dihadapkan langsung dengan realitas, dimana adu wacana mengenai persaingan identitas dan pembelajaran pesantren mendapat tekanan. Karena itulah, pada dasarnya modernisasi ini menjadi salah satu upaya pesantren dalam menerima wacana pembaruan dengan terus berusaha mempertahankan ciri khas pesantren, khususnya kultur tradisionalnya.

Pesantren dan Gagasan Pembaruan

Sejarah mencatat bahwa adanya pendidikan tergantung juga dari tingkat perkembangan pemikiran atau ide-ide dari manusia. Pendidikan adalah proses pemanusiaan atau humanisasi. Tujuan dari pendidikan harus memaksimalkan kemajuan pola pikir setiap manusia. Karena itu proses humanisasi ini dimulai dengan perbaikan atau pembenahan moral kemanusiaan. Pemenuhan moral ini mulai dilakukan setelah kelahiran biologis anak dari orang tuanya yang mengharuskan orang tua untuk mendidik anak dengan moral-moral yang santun.

Humanisasi atau pendidikan moral ini mengungkapkan sifat-sifat atau watak yang baik dalam memperlakukan sesama, seperti simpatik, lemah-lembut, ramah, toleran dan tidak kasar. Dalam kerangka pemikiran ini moral memperoleh tempat yang sentral dalam pendidikan. Kepentingan akan orientasi mengenai pendidikan akan membuahkan pemikiran-pemikiran mengenai hakikat atau esensi pendidikan itu sendiri, baik tentang eksistensi kepribadian maupun kemanusiaan.

Persoalan baru yang sering dimunculkan di kalangan pesantren adalah seperti fenomena doktrin yang kerap menjadi tantangan eksistensi santri dalam merespon modernitas. Islam senatiasa merespon modernitas zaman dengan menjadikan moral sebagai kekuatan yang mampu membimbing umat manusia. Seorang muslim hendaknya memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dengan menciptakan masyarakat bermoral, berkeadilan dan menghargai pluralitas. Pesantren menjadi salah satu ujung tombak pembinaan umat Islam Indonesia. Pesantren perlu menjawab modernitas zaman dengan menata kembali pondasi identitas, juga sikap etik dan adaptif yang tidak lekang oleh waktu.

Menurut penulis, cara pesantren menerima modernitas ini bisa dipetakan dengan adanya tiga tipologi, pertama, metode konservatif, yakni memunculkan paradigma beragama yang ideal. Kedua, metode progresif, yakni dalam kerja intelektualnya berusaha menggunakan proses transformasi sosial. Ketiga, metode reformis moderat, yakni membaca peralihan dari kultur tradisional patriarkal kepada masyarakat yang rasional dan ilmiah.

Dengan cara pandang inilah, pesantren perlu melakukan akomodasi kultural dan bergerak ke arah penerimaan modernitas sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan realita. Pesantren perlu menimbang ulang sistem teologi dan identitasnya yang meniscayakan adanya keterbukaan sikap untuk menerima perubahan-perubahan dan perbedaan-perbedaan. Adanya hal ini, seperti mengubah cara pandang terhadap teks menjadi lebih rasional serta inklusif. Melalui kenyataan inilah, agama Islam melalui pesantren sendiri bisa digunakan sebagai sumber motivasi bagi umat, khususnya santri, mengubah keadaan masyarakat sekaligus menjadi modal spiritual untuk meningkatkan interaksi dan aplikasi Islam kepada kehidupan.
(Sumber gambar: republika.co.id)
 Oleh: Maulidatun Nur Azizah
Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, Anggota CSSMoRA asal Blitar

Rabu, 10 Mei 2017

Museum Brawijaya: Saksi Bisu Sejarah

 
Fakta sejarah para pejuang Indonesia di museum Brawijaya, kota Malang, dalam observasiku ke museum tersebut pada kurun 2015, menyisakan banyak kenangan sekaligus menambah wawasan dan militansi dalam menghadapi era globalisasi yang membodohi. Tidak hanya berbentuk tulisan semata, aneka ragam perlengkapan perang ada didalam museum itu. Dipamerkannya foto-foto tahun 1949 dan didukung dengan kata-kata bijak pahlawan nasional yang tertempel pada beberapa tembok museum itu, seakan menghubungkan segala kehidupanku dengan mereka –para pahlawan- baik material maupun non material. 

Lokasi yang strategis pada masa kini, karena di tengah kota, memudahkan masyarakat untuk berkunjung dan mengenang jasa para pahlawan. Ditambah lokasi yang tiap hari minggu pagi memberikan peluang pada masyarakat untuk bisa meregangkan dan meluruskan otot-ototnya yang sejak seminggu bekerja, belajar dan segala aktifitas yang melelahkan dan membosankan. Lokasi tersebut, beralamat di Jalan Ijen. Kegiatan itu adalah senam pagi. Kegiatan yang diadakan tepat di depan museum Brawijaya yang juga disekeliling tugu. Tugu yang dipersembahkan oleh rakyat Indonesia, dalam mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan perang dalam memperjuangkan bangsa ini. tugu yang selalu dijaga dan dirawat oleh beberapa kalangan muda dan tua, atau mungkin adalah orang yang memang ditugaskan menjadi pahlawan kebersihan di tempat itu. 

Aku mulai mengobservasi dari sekeliling museum Brawijaya. Nama yang diambil dari raja Majapahit yang berhasil mempersatukan wilayah nusantara dan bergelar Prabu Brawijaya. Sekarang, selain nama tersebut dijadikan nama museum, juga dijadikan nama markas militer KODAM VIII. Selain ku dapatkan sebuah tugu yang menjulang tinggi ke atas, seperti halnya jiwa juang para pahlawan yang tinggi. 

Kudapatkan pula sebuah tank yang cukup tua, hingga roda-rodanya terlihat kempes dan kering lusuh, tak terbantahkan usia tuanya. Meskipun tuanya tank tersebut, masih tetap terlihat bagus. Mampu membuat pejalan kaki hinggap sebentar untuk melihat keeksotikannya. 

Memasuki museum Brawijaya, dihadapkan dengan keindahan taman-taman. Disertai pula dengan kolam ikan yang dibelah oleh jembatan. Jembatan yang menghubungkan pada jalan masuk museum tersebut. Dengan mengocek saku dan mengeluarkan tiga ribu rupiah, seseorang bisa masuk ke dalam museum. 

Terdapat dua ruangan yang menyimpan beragam perlengkapan, perkakas perang modern maupun tradisional, foto-foto pahlawan, peta perang Pangeran Diponegoro, dan artileri tua, juga beberapa penghargaan TNI berupa thropi dan piagam. Memasuki ruangan pertama, terpampang foto-foto para pahlawan yang gugur dalam memeprjuangkan bangsa ini. di antara mereka ada, Shodanco Supriyadi, tokoh PETA. Selain itu masih banyak alat tembak yang bermacam-macam, ada yang berinisial 65, 62, 72, 555, dan masih banyak lagi. Sotgun pun ada disana dan bermacam-macam jenisnya. 

Terdapat pula madding yang berisikan foto-foto lama yang berketerangan dibawah maupun diatasnya. Foto yang notabenenya menceritakan perang pada tahun 1945 hingga 1949 itu mengingatkan kepadaku kerasnya perjuangan, gigihnya semangat juang dan bela negara yang tinggi. Para pahlawan yang terlihat pada foto tersebut meninggalkan raut muka yang seakan mengajak para pemuda ikut andil dalam bela negara. Para arek-arek Surabaya yang sedang memegang senjata, bertiarap, memainkan senapan dan bambu runcing yang menjadi ciri khas pejuang Indonesia dalam tragedi 10 november 1945, membuat hatiku ciut, tangan gemetar, mata terbelalak sesaat. Apa yang sudah aku berikan pada negaraku, ungkapku. 

Aku malu dengan diriku. Aku mulai berfikir dan mencermati mading tersebut. sampai ku cermati pula tembok-tembok di sekeliling ruangan itu. kudapatkan kembali hal yang mengiris hati. Kali ini hati bukan makin menciut, akan tetapi hati makin kuat setelah kubaca kata-kata Jendral Soedirman yang ditempel di tembok ruangan itu. Beliau berkata, 

-“Korban sudah cukup banyak, prajurit sudah banyak yang gugur, pantang mundur, revolusi kita belum selesai”-

-“Kemewahan adalah permulaan keruntuhan, kesenangan melupakan tujuan, irihati merusak persatuan, keangkaramurkaan menghilangkan tujuan”-

-“Jangan bimbang menghadapi macam-macam penderitaan, karena makin dekat cita-cita kita tercapai, makin berat penderitaan yang harus kita alami”- 

 Dengan pernyataan Jendral Soedirman, hatiku mulai melebar, semangatku mulai naik, gemetar malu berubah menjadi semangat yang menggebu-gebu. Aku mulai menancapkan niat untuk merevolusi diri sebelum merevolusi bangsa ini dari kemunduran. Dalam hal ini, peran pemuda bangsa harus dikedepankan. Para pemuda harus dibina, diarahkan, dan dididik agar bisa meneruskan estafet perjuangan yang telah disuarakan oleh para pendahulu. 

Memasuki ruangan kedua, terdapat banyak pula artileri, perkakas perang, dan peta perang . Yang membedakan hanya perkakas perang yang masih tradisional dan terdapat banyak penghargaan TNI. Alat perkakas perang yang terdapat pada ruangan ini, seperti perkakas yang dipakai di daerah Papua, yaitu panah. Dan apabila ruangan pertama mading berisi gambar-gambar yang menceritakan masa perjuangan melawan penjajah belanda, maka di ruang kedua ini, menceritakan tentang pemberontakan PKI. Pemberontakan di Madiun dan sejumlah tempat yang pada akhirnya ditumpas habis-habisan oleh pihak TNI. 

Keluar dari ruangan kedua, ternyata masih ada serambi didalam kawasan museum. Terdapat semacam gerbong kereta yang didalamnya hanya ada ruang lepas. Ventilasinya pun sangat sedikit. Memungkinkan bagi orang yang tinggal didalamnya bisa kekurangan nafas. Di gerbong tersebut tertuliskan bahwa, gerbong ini pernah mengangkut 100 tawanan dari rakyat Indonesia. Gerbong itu mengangkut dan melewati beberapa kota. Sesampainya di kota yang dituju, dari 100 rakyat Indonesia yang di angkut, 14 meninggal dunia, 43 sakit parah, dan 43 selamat sehat. Ini adalah jumlah yang lumayan banyak. Bukti perjuangan dari rakyat Indonesia masih bisa kita lihat sekarang. 

Cerita sejarah dari pendirian museum Brawijaya di Malang ini cukup menarik. Kenapa harus kota Malang yang menjadi tempat penyimpanan perkakas-perkakas perang dalam bukti sejarah tersebut? karena kota Malang pada saat itu adalah kawasan yang dianggap aman dari kolonial belanda dan antek-anteknya. Kota Malang terletak ditengah daripada pulau Jawa bagian timur jika dibandingkan dengan Surabaya dan Malang selatan. maka tempat tersebut dianggap aman bagi para rakyat Indonesia yang berada di kawasan Malang kala itu. Tempat yang susah dijangkau oleh para penjajah. Rakyat Indonesia yang memegang pesan-pesan pendahulu lah yang menjadikan museum Brawijaya ini bisa kita jumpai hingga sekarang. 

Museum yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya dan masih terus dilestarikan. Bahkan tiap beberapa tahun sekali, museum itu selalu direnovasi, guna menjaga dan merawat agar kelak, anak cucu bangsa Indonesia bisa melihat dan mengambil pelajaran atas peristiwa para pejuang kemerdekaan yang merebut kekuasaan negri ini dari penjajah. Terkhusus apa yang sudah tertulis, tertempel dan terpajang di museum tersebut. 

Oleh: Budi Cahyono 
Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Anggota CSSMoRA.
Dari Santri, Untuk Negeri - CSSMoRA
Ikuti Kami